Ibuku, Wanita Hebat

Le Eminence ~ Ibu saya seorang Guru SMP. Karirnya dimulai sebagai karyawan di Dinas Perkebunan. Berbulan-bulan ia berada di pulau yang minim penghuni bersama timnya.

Setelah lama berkecimpung di perkebunan, ia melanjutkan karirnya sebagai guru SMP. Tidak sampai disitu. Saat usiaku masih SD, ia tetap gigih belajar. Pagi ia menjalankan tugasnya sebagai seorang guru, sore harinya ia menjadi mahasiswa.

Ia termasuk wanita yang tidak pernah menyerah. Selalu haus untuk belajar dan disiplin dalam bekerja. Anak SMP yang bandal pun tanpa segan-segan untuk ia didik setiap hari.

Puluhan tahun ia mengabdikan dirinya mengajar. Puluhan kilometer ditempuh olehnya. Saya yakin dia letih! Letih secara fisik maupun secara mental, karena harus sabar mengajar anak SMP di desa itu. Tetapi setelah pulang mengajarpun ibu harus mengurus bapak dan anak-anaknya.

Sejalan dengan waktu setelah bapakku pensiun, ibu pindah mengajar ke sekolah yang lebih dekat. Tetapi saya yakin mengajar anak-anak SMP pasti masih memerlukan kesabaran yang tinggi. Ada yang nakal, ada yang kalau diterangkan tidak pernah mengerti. Pasti ibu letih luar biasa.

Tetapi setelah pulang ibu tetap mengurus bapakku dan anak-anaknya. Ibu mengerjakannya dengan sabar dan senang hati. Memasak, menyiapkan makanan untuk kami, menanyakan kepada kami bagaimana hari-hari kami.

Pernah aku melihat ibuku menangis.
Lama kemudian aku mengerti, Ibuku hanyalah seorang manusia, pasti suatu saat ibuku lelah juga dan menangis.

Ibuku adalah wanita yang hebat. Dengan sabar memotivasi dan mendidik kami, baik murid-muridnya di sekolah, maupun anak-anaknya di rumah.

Ibu dan bapakku tidak pernah cemburu atau iri dengan keberhasilan anak-anaknya. Bahkan mereka begitu bangga, bahwa mereka mampu mendidik anak-anaknya. Mereka saling melengkapi.

Yang membuat aku kagum pada ibuku, istriku, saudariku, dan semua wanita, adalah kemampuan mereka untuk menjalankan parallel processing, menyeimbangkan waktu untuk menjalankan beberapa hal bersamaan dalam waktu yang sama, bekerja dengan baik, mengembangkan kariernya, membantu menafkahi keluarganya, mengurus suaminya, dan mendidik anak-anak, dengan tidak pernah mengeluh, selalu sabar menjalankan kehidupan.

Allahumma Fighfirlii Wa Liwaa Lidhayya Warham Humaa Kamaa Rabbayaa Nii Shaghiraa

Untukmu ibu.

Leave a Comment